Buat kamu yang suka dengan keindahan alam, Prefektur Yamanashi adalah tempat yang tepat. Beberapa gunung tertinggi ada di sini. 78% wilayah prefektur ini adalah hutan, dan 30% lahannya adalah taman nasional. Keunggulan-keunggulan inilah yang menjadikan Yamanashi salah satu tempat terbaik untuk mendaki gunung dan berjalan-jalan di alam.
Kami berkesempatan untuk berkunjung ke Nishizawa Keikoku, sebuah Ngarai di Taman Nasional Chichibu-Tama-Kai. Berada di utara kota Yamanashi, wilayah ini sangat populer untuk berjalan-jalan dan mendaki gunung. Saya tidak bilang bahwa saya suka olahraga, tapi saya selalu siap untuk melihat wilayah baru dari prefektur ini, jadi saya berangkat bersama rekan yang lain untuk mencoba jalur pendakian dan melihat air terjun yang terkenal.
Peta Taman Nasional
Jalur pendakian kami terdiri dari 10 km, dimulai dari tempat parkir mobil dan semuanya menyusuri ngarai. Cuacanya begitu bagus, jalurnya juga masih sepi. Sebelum kami sampai ke titik 1 km pertama, sudah ada air terjun dan pemandangan indah yang menanti.
Salah satu air terjun di awal pendakian
Penunjuk jalur
Dari peta ini kita bisa melihat seluruh jalurnya. Bagian tengahnya menuju ke Nanatsugama Godan no taki, sebuah air terjun lima tingkat yang ada jauh di tengah gunung. Jalur ini membawa kita berputar hingga kembali lagi ke tempat semula, sehingga tidak perlu untuk mengulangi jalur yang sudah ditempuh serta pemandangannya pun bermacam-macam.
Pemandangan pegunungan dan hutan di sekitar kami
Kami memulai pendakian secara perlahan, melewati beberapa penunjuk untuk jalur pendakian gunung lainnya. Ada banyak gunung tinggi di Taman Nasional Chichibu-Tama-Kai, termasuk Kobushigatake di antaranya, sebuah pegunungan dengan puncak setinggi 2.475. Buat kamu yang benar-benar ingin untuk mendaki gunung, kamu bisa mulai dari Nishizawa Keikoku.
Penunjuk bagi pendaki kawakan
Beberapa kilometer pertama yang kami tempuh dipenuhi oleh pepohonan rimbun yang meneduhkan. Suhu setempat pun sangat sejuk, karena didukung oleh ketinggian dan rimbunnya pepohonan. Semakin jauh ke dalam, jalurnya akan semakin mendekati air terjun lainnya di sepanjang jalur sungai Fuefuki. Selain itu, sisi kiri jalur pun terasa semakin tinggi sehingga dasar ngarai pun mulai terlihat.
Trekking
Kami bertemu dengan beberapa pendaki di jalan, dan beberapa di antaranya adalah orang tua! Beberapa bagian dari jalur ini cukup berbatu, dan itu membuat saya penasaran bagaimana mereka bisa melaluinya. Jelasnya sih mereka sehat dan tahu bagaimana mendaki dengan baik, jadi mungkin itu tidak merepotkan bagi mereka. Banyak pendaki lain membawa tongkat, tas ransel, dan jaket anti air. Benar-benar penuh persiapan.
Bagian dari jalur yang mudah
Bagian dari jalur yang lebih 'menantang'
Air terjun Sanjuutaki
Kami berhenti sejenak untuk makan siang di Sanjuutaki, sebuah air terjun tiga tingkat di sekitar titik kilometer 3. Airnya begitu jernih, dan sulit rasanya untuk memalingkan muka dari birunya air ini. Betul-betul tempat yang indah dan sempurna untuk rehat dan santai sejenak.
Air yang biru jernih
Kami pun melanjutkan perjalanan setelah makan siang. Dari sini, jalurnya semakin berbatu, dan banyak pagar rantai disediakan untuk membantu kita berpegangan. Akan lebih mudah jika menggunakan sepatu gunung! Sulit juga untuk tidak terpeleset di sini, karea banyaknya pemandangan indah di sekitar, membuat kita enggan untuk terus menerus melihat ke arah kaki kita sendiri.
Hati-hati melangkah!
Ada beberapa air terjun di sepanjang jalur ini, yang terbesar adalah Air Terjun Dewa Naga, air terjun dengan aliran air yang deras. Kami juga melalui Gua Rahim, disebut demikian karena bentuknya yang bulat. Di salah satu tempat, kami melihat ada besi yang menonjol dari salah satu bebatuan. Saya pikir itu ular, tapi ternyata besi itu adalah sisa rel kereta tua! Berbagai macam pertanyaan muncul di benak saya - tapi itu terjawab di penghujung perjalanan.
Air Terjun Dewa Naga
Pemandangan Air Terjun Dewa Naga
Gua Rahim
Apa ini?
Hei Yuri-san!
Akhirnya, setelah kurang lebih 2,5 jam, kami tiba juga di air terjun terkenal, Godan no Taki, alias air terjun lima tingkat. Begitu indah. Seakan-akan air yang ada di tiap tingkatan kolam ini tidak bergerak, dan ada air lain yang terjun dengan derasnya.
Kami beristirahat sejenak di sini sebelum melanjutkan perjalanan. Jalur sebelumnya begitu berbatu, dan kaki saya mulai sakit. Saya agak khawatir untuk melanjutkan pendakian ini - tapi saya menjadi lebih lega karena setelah melalui Godan no Taki, jalurnya menjadi semakin mudah dan datar. Setengah perjalan berikutnya lebih santai dan mudah daripada setengah yang pertama, - tapi menurut saya, memang lebih menarik untuk melalui yang sulit di setengah pertama. Namun, meskipun setengah yang kedua lebih mudah untuk dilalui, ini hampir 5 km! Mungkin kamu tidak akan mau untuk melaluinya jika ini hanya sebuah jalur turun gunung yang berbatu, dan mungkin kamu terlalu lelah untuk menikmati pemandangannya. Memang pemandangan di setengah kedua ini tidak seindah pemandangan di sekitar sungai dan air terjun. Meskinpun begitu, tetap ada pemandangan indah dari pegunungan Taman Nasional Chichibu-Tama-Kai.
Istirahat sejenak
Mulai berjalan lagi
Bagian jalur yang lebih datar
Mungkin kamu akan sedikit bertanya-tanya kenapa jalurnya begitu berbeda setelah melewati Godan no Taki. Jawabannya ada di jalur kereta yang tadi saya bilang. Pada zaman Showa, banyak industri dan penebangan kayu di pegunungan sekitar ngarai ini. Saat itu ada Trokko, sebuah kereta tambang yang digunakan untuk mengangkut kayu dan material lainnya ke kaki gunung. Jalur ini menjadi datar karena ada rel kereta ini, dan tidak banyak belokan untuk mengurangi peluang jatuhnya material dari kereta. Trokko ini sudah tidak berfungsi sejak akhir zaman Showa. Dimana kayu dari luar negeri sudah lebih murah daripada produksi dalam negeri. Sisi sejarah ini menjadikan daya tarik tersendiri bagi Taman Nasional, sebuah kesempatan menarik untuk mengetahui nilai lain yang dimiliki wilayah ini bagi warga Yamanashi.
Jalur Trokko
Penjelasan tentang trokko
Kami melalui setengah kedua dari jalur ini dengan santai, sambil mendengar musik dan menikmati angin semilir. Kami pun melalui bebearapa batu besar yang dari celah-celahnya ada air yang mengalir. Airnya begitu jernih, dan kami langsung meminumnya seperti ini! Sangat menyegarkan! Apalagi ketika diminum di saat kita kelelahan.
Yuri-san mencoba minum airnya
Di sepanjang jalur ini kami ditemani oleh suara burung dan serangga, kami tidak menemukan hewan yang berukuran besar di jalur ini, hanya ada tikus hutan kecil di antara dedaunan. Dia begitu kecil dan menggemaskan!
Terlihat tidak tikusnya?
Ada kuil kecil di jalur ini, di sekitar penanda km 8-9. Teman kami berdoa sejenak. Setelah melalui kuil ini, jalurnya berujung ke titik awal, dan kami melihat penanda titik 10 km. Kaki saya begitu pegal setelahnya, tapi ini betul-betul pengalaman yang menakjubkan! Saya sangat menganjurkan pada siapapun untuk mencobanya.
Kuil kecil
Jembatan terakhir
Nah, untuk mencapai Nishizawa Keikoku ini, kamu bisa naik bis dari gerbang selatan stasion Enzan yang menuju langsung ke gerbang masuk Nishizawa Keikoku. Harap dicatat, jumlah bisnya sedikit. Jadwal bus bisa diperiksa di sini. Jadi, persiapkan waktu dengan cermat ya. 塩山駅南口 adalah Gerbang Selatan Stasiun Enzan, dan西沢渓谷入口 adalah gerbang masuk ke Nishizawa Keikoku.
Selamat mendaki!
Selesai!
Tambahan video!
No comments:
Post a Comment
About Us
Yamanashi PrefectureGlobal Tourism Division
We share information about the best sightseeing spots, local festivals, foods and drinks, and entertainment in and around Yamanashi Prefecture.
No comments:
Post a Comment