Berkelana ke Jalan Sutra



Oleh F. Agustimahir

Jalan sutra bukanlah sesuatu yang asing di telinga masyarakat Indonesia. Banyak kita dengar tentang jalan sutra di bangku sekolah, yang mencantumkan Indonesia sebagai salah satu bagian dari jalan sutra laut.

Kali ini saya berkunjung ke Museum Jalan Sutra Hirayama Ikuo di kota Hokuto, prefektur Yamanashi. Museum ini memiliki berbagai koleksi bersejarah dan karya-karya seni yang berkaitan dengan jalan sutra milik seniman ternama Jepang, Hirayama Ikuo.






Hirayama Ikuo (1930 – 2009), adalah salah satu seniman besar Jepang yang memiliki minat khusus terhadap jalan sutra, terutama pengaruhnya terhadap budaya Jepang. Salah satunya adalah agama Buddha yang tiba dan berkembang di Jepang. Koleksi di museum ini terbagi ke dalam dua bagian utama, yaitu koleksi sejarah kebudayaan jalan sutra serta lukisan dan sketsa karya Hirayama.

Selama ini, gambaran patung Buddha di benak saya adalah patung Buddha yang ada di Candi Borobudur. Pada foto berikut ini, Buddha digambarkan dengan sorot mata yang teduh, sederhana, telinga yang panjang, serta tidak berkumis. Sangat berbeda dengan salah satu koleksi patung Buddha berikutnya, yang sorot matanya tajam, menggunakan perhiasan, telinga tidak panjang, dan berkumis tebal. Kedua patung tersebut berasal dari daerah Gandhara (saat ini berada di antara Pakistan dan Afghanistan) dan diperkirakan dibuat pada abad 2-3.

Patung Buddha yang menampilkan kesan sederhana

Patung Buddha yang mengenakan banyak perhiasan serta berkumis tebal

Selain itu, ada juga koleksi yang berasal dari daerah-daerah lain yang dilalui oleh jalur sutra. Misalnya gelas anggur (rhyton) dari Iran ini. Sekilas, ini hanyalah sebuah gelas yang dihiasi hiasan kambing atau kuda, namun jika dilihat lebih seksama, ada lubang di sekitar dada kambing dan kuda. Diperkirakan para bangsawan pada zaman dahulu kala memegang gelas sambil menutupi lubang dengan jempol dan dari lubang inilah anggur diminum. Menarik bukan?

Rhyton dengan hiasan kepala kambing

Rhyton dengan hiasan kepala kuda

Puas melihat-lihat berbagai koleksi jalan sutra, berikutnya saya menghampiri berbagai karya dan sejarah Hirayama. Seperti sketsa, lukisan Honga, dan studio.

Studio Ikuo Hirayama
Sketsa yang ada di museum ini ada bermacam-macam. Ada sketsa berbagai pemandangan dan figur yang ditemui dalam perjalanan ke berbagai negara yang dilalui jalur sutra, ada juga sketsa sebuah daerah di Kyoto yang merupakan sketsa terakhir untuk karya yang tidak pernah dibuat.

Sketsa Palmyra - Suriah

Sketsa terakhir Ikuo Hirayama, yang tak sempat dijadikan karya. Suatu daerah di Kyoto.

Sketsa seorang anak bernama Abdullah. Afghanistan, 26 Mei 1973.

Sketsa suasana pasar di Isfahan, Iran. 5 Juni 1973.

Lukisan Honga adalah sebuah gaya lukis yang pewarnaannya menggunakan iwa-enogu. Iwa-enogu sendiri adalah campuran bubuk halus bebatuan dengan nikawa (sejenis lem jepang). Contohnya adalah batu azurite untuk membuat warna ultramarine. Warna inilah yang paling mahal untuk dibuat. Salah satu karya terkenalnya adalah lukisan berikut ini, yang menunjukkan perjalanan para pedagang di jalur sutra. Digambarkan dalam dua versi, perjalanan di dini hari dan sore hari. Satu lukisan ini terdiri dari 4 panel terpisah yang memudahkan ketika karya ini akan dipamerkan. Karya ini kerap dipinjamkan ke museum lain baik di dalam Jepang, maupun di luar Jepang.

Salah satu lukisan Honga. 

Salah satu lukisan Honga

Melihat banyak koleksi di museum ini memang seakan-akan membawa kita berkelana ke jalan sutra. Koleksinya berasal dari banyak daerah di sepanjang jalan sutra. Berbagai karya yang ditampilkan di museum ini terinspirasi dari banyak peninggalan budaya di sekitar jalan sutra. Beberapa diantaranya telah rusak atau hancur, seperti Palmyra di Suriah dan patung Buddha raksasa di Bamiyan, Afghanistan. Semoga peninggalan budaya lainnya bisa tetap dilestarikan keberadaannya.


Bonus: Juragan roti dari Asia Tengah. 

Instagram