Memetik Ceri di Minami-Alps

oleh F. Agustimahir



Penghujung musim semi hingga pertengahan musim gugur adalah waktu untuk memanen berbagai buah-buahan di Yamanashi. Sekarang, bulan Mei sudah tiba, itu artinya waktu panen buah-buahan semakin dekat. 


Berikut ini adalah urutan buah berdasarkan waktu panennya; ceri, beri biru, persik, prem, anggur, apel, dan kesemek. 

Minggu lalu, saya beserta Riry, mahasiswi Universitas Yamanashi, diajak Asosiasi Pariwisata Prefektur Yamanashi untuk memetik ceri di kota Minami-Alps. 

Kebun yang kami datangi namanya Nangokuen, yang jika diterjemahkan artinya adalah 'Kebun negara tropis'. Entah kenapa nama itu yang dipilih, padahal ceri tidak berbuah di daerah tropis. 

'Nan-goku-en'

Begitu tiba di kebun, kami diberi penjelasan tentang cara memetik ceri oleh pemilik kebun. Menurutnya cara petik tergantung dari pengelola kebun, namun biasanya pengelola hanya mengizinkan untuk memetik buahnya, tanpa mencabut tangkainya. 

Sedang menjelaskan cara memetik ceri

Hal ini disebabkan oleh adanya mata tangkai di bagian pangkal yang akan menjadi bakal buah di tahun berikutnya. Jika tidak hati-hati, maka mata tangkai ini bisa tercabut. 

Bagian berwarna kecoklatan di dekat pangkal tangkai warna hijau adalah 'mata' untuk tahun depan  

Lain halnya dengan ceri yang dijual di toko, selalu dijual dengan tangkai yang masih menempel di buahnya. Hal ini ditujukan untuk menjaga kesegaran buahnya. Ceri akan mulai berkurang kesegarannya sejak tangkai tersebut dicabut. 


Masa panen ceri ini biasanya terbagi dua, yaitu awal hingga akhir Mei untuk ceri yang ditanam di dalam rumah kaca, dan akhir Mei hingga akhir Juni untuk ceri yang ditanam di lahan terbuka. 

Kebun yang kami datangi adalah kebun yang menggunakan rumah kaca. Hampir seluruh jenis ceri yang ditanam di sini adalah Takasago. Selain dari itu, ada beberapa pohon dengan jenis Satonishiki. 


Pohon ceri biasanya mulai berbuah di usia 5-6 tahun. Dan akan terus berbuah hingga pohonnya mati. Saat itu di kebun ada sekitar 4-5 tangkai pohon ceri muda yang ditanam berdekatan dengan tunggul pohon ceri yang sudah mati. 

Setelah mendengarkan penjelasan-penjelasan di atas, kami pun dipersilahkan untuk memetik ceri sepuasnya. Syaratnya hanya satu, silahkan petik sejauh tangan bisa menjangkaunya. Jangan pakai tangga. 

Bagian yang tidak terjangkau oleh pengunjung, nantinya akan dipanen oleh pengelola untuk dijual ke toko melalui koperasi tani. 

Tidak menunggu lama, saya dan Riry pun segera memetik ceri. Kami mencari yang paling merah warnanya, karena itu yang paling manis. 

Riry, mahasiswi Universitas Yamanashi

Saya mencoba membandingkan perbedaan rasa antara jenis Takasago dan Satonishiki, dan hasilnya, saya tetap tidak paham apa bedanya. Lain halnya ketika harus membedakan mangga gedong dan mangga harumanis. Hehehe. 

Fadly, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. 😜

Biarpun begitu, yang jelas ceri segar itu memang lezat. Rasanya manis dan sedikit asam. Kami menghabiskan waktu sekitar sejam di kebun ini. Entah berapa buah yang berhasil kami makan. 

Normalnya, perlu membayar 3.000 yen/pengunjung/30 menit untuk petik ceri sepuasnya di kebun yang menggunakan rumah kaca. Sedangkan untuk petik ceri di kebun lahan terbuka harganya 2.000 yen/orang/40 menit.


Tidak boleh dibungkus ya. Beli lagi terpisah kalau mau bawa pulang. Sebagai gambaran, biasanya ceri dijual sekitar 400-500 yen per kotak kecil di toko. 

Bagi teman-teman yang ingin memetik ceri di Yamanasih, silahkan datang langsung ke Minami Alps ya!

Instagram